Agustus 31, 2012

Sudah Lama Ngaji Tapi Akhlaq Tidak Baik

Gus Iman | 2:27 PM |

Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang
akhlaknya baik walaupun sedikit ilmunya”.
[SMS seorang ikhwan].

“Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang
lain, padahal ilmunya masya Alloh, saya juga awal-awal
“ngaji”banyak tanya-tanya agama sama dia”.
[Pengakuan seorang akhwat].

“Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaknya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan ana lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat”.
[Pengakuan seorang ikhwan]

Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji”

1 . Ada yang telah ngaji 3 tahun atau 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaknya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak.

Sebagian dari kita sibuk menuntut ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ilmunya terutama akhlaknya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti di komentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang berilmu, dan semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.


Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah Rodhiyallohu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah Rodhiyallohu ‘anha berkata,
َﻥﺁْﺮُﻘْﻟﺍ ُﻪُﻘُﻠُﺧ َﻥﺎَﻛ

“Akhlak beliau adalah Al-Qur'an” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54] Yang berkata demikian Adalah A’isyah Rodhiyallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺎَﻧَﺃَﻭ ِﻪِﻠْﻫَﺄِﻟ ْﻢُﻛُﺮْﻴَﺧ ْﻢُﻛُﺮْﻴَﺧ
ﻲِﻠْﻫَﺄِﻟ ْﻢُﻛُﺮْﻴَﺧ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan ghorib shohih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut shohih].

Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar.

Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.

Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,

ِﻊِﺒْﺗَﺃَﻭ َﺖْﻨُﻛ ﺎَﻤُﺜْﻴَﺣ َﻪَّﻠﻟﺍ ِﻖَّﺗﺍ
ﺎَﻬُﺤْﻤَﺗ َﺔَﻨَﺴَﺤْﻟﺍ َﺓَﺊِّﻴَّﺴﻟﺍ
ٍﻦَﺴَﺣ ٍﻖُﻠُﺨِﺑ َﺱﺎَّﻨﻟﺍ ِﻖِﻟﺎَﺧَﻭ
“Bertakwalah kepada Alloh di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no.1987 dan Ahmad 5/153. Abu‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’diy Rohimahullohu menjelaskan hadist ini,“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia-sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka-dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]

Demikian pula sabda Beliau Shollallohu ‘alaihi wa sallam,

,
ﻯﻮْﻘَﺗ َﺔَّﻨَﺠْﻟَﺍ ُﻞِﺧْﺪُﻳ ﺎَﻣ ُﺮَﺜْﻛَﺃ
ِﻖُﻠُﺨْﻟَﺍ ُﻦْﺴُﺣَﻭ ِﻪَّﻠﻟَﺍ
”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Alloh dan akhlak yang mulia” (HR At- Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Tingginya ilmu bukan tolak ukur iman dan tauhid Karena ilmu terkadang tidak kita amalkan, yang benar ilmu hanyalah sebagai wasilah/perantara untuk beramal dan bukan tujuan utama kita. Oleh karena itu Alloh Azza wa Jalla berfirman,

“Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.”[Al-Waqi’ah: 24]
Alloh TIDAK berfirman,


َﻥﻮُﻤﻠَﻌﻳ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ﺎَﻤِﺑ ﺀﺍَﺰَﺟ

“Sebagai balasan apa yang telah mereka ketahui.”

Dan cukuplah peringatan langsung dalam Al-Qur’an bagi mereka yang berilmu tanpa mengamalkan,

َﻢِﻟ ﺍﻮُﻨَﻣَﺁ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺎَﻬُّﻳَﺃ ﺎَﻳ َﺮُﺒَﻛ َْﻥﻮُﻠَﻌْﻔَﺗ ﺎَﻟ ﺎَﻣ َﻥﻮُﻟﻮُﻘَﺗ
ﺍﻮُﻟﻮُﻘَﺗ ﻥَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﺪﻨِﻋ ًﺎﺘْﻘَﻣ
َﻥﻮُﻠَﻌْﻔَﺗ ﺎَﻟ ﺎَﻣ

”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Alloh bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaff:3)

Dan bisa jadi Ilmunya tinggi karena di karuniai kepintaran dan kedudukan oleh Alloh sehingga mudah memahami, menghafal dan menyerap ilmu.

Ilmu Agama hanya sebagai wawasan ?

Inilah kesalahan yang perlu kita perbaiki bersama, sebagian kita giat menuntut ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui keilmuannya. Kita perlu menanamkan dengan kuat bahwa niat menambah ilmu agar menambah akhlak dan amal kita.

Ibnul Qoyyim Rahimahulloh mengatakan ,
“Salah satu tanda kebahagia'an dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah juga tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya .” [Al-Fawa’id hal 171, Maktabah Ast-Tsaqof iy]

Sibuk belajar ilmu fiqh dan Ushul, melupakan ilmu akhlak dan pensucian jiwa Yang perlu kita perbaiki bersama juga, sebagian kita sibuk mempelajari ilmu fiqh, ushul tafsir, ushul fiqh, ilmu mustholah hadist dalam rangka memperoleh kedudukan yang tinggi, mencapai gelar“ustadz”, menjadi rujukan dalam berbagai pertanyaan . Akan tetapi terkadang kita lupa mempelajari ilmu akhlak dan pensucian jiwa, berusaha memperbaiki jiwa dan hati kita, berusaha mengetahui celah-celah setan merusak akhlak kita serta mengingat bahwa salah satu tujuan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam diutus adalah untuk menyempurnakan Akhlak manusia.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ ﻢِّﻤَﺗُﺄِﻟ ُﺖْﺜِﻌُﺑ َﻼْﺧَﺄْﻟﺍ َﺢِﻟﺎَﺻ َ ِﻕ”

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [H.R. Al-Hakim dan dinilai shohih oleh beliau, adz- Dzahabi dan al-Albani]

Ahlak yang mulia juga termasuk dalam masalah aqidah Karena itu kita jangan melupakan pelajaran akhlak mulia, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh memasukkan penerapan akhlak yang mulia dalam permasalahan aqidah. Beliau berkata,

“Dan mereka (al-firqoh an-najiah Ahlus sunnah wal jama’ah) menyeru kepada (penerapan ) akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik. Mereka meyakini kandungan sabda Nabi Shollalohu ‘alaihi wa sallam, “Yang paling sempuna imannya dari kaum mukminin adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka“. Dan mereka mengajakmu untuk menyambung silaturrohmi dengan orang yang memutuskan silaturohmi denganmu, dan agar engkau memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, engkau memaafkan orang yang berbuat dzholim kepadamu, dan Ahlus sunnah wal jama’ah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturrohmi, bertetangga dengan baik, berbuat baik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dan para musafir, serta bersikap lembut kepada para budak. Mereka (Ahlus sunnah wal jama’ah) melarang sikap sombong dan keangkuhan , serta merlarang perbuatan dzolim dan permusuhan terhadap orang lain baik dengan sebab ataupun tanpa sebab yang benar. Mereka memerintah kan untuk berakhlak yang tinggi (mulia) dan melarang dari akhlaq yang rendah dan buruk”. [lihat Matan 'Aqiidah al-Waashit hiyyah]

Bagi yang sudah “ngaji”,yang notabenenya Insya Alloh sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaithon mengoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaithon berusaha merusak Akhlaqnya.

Syaithon berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelak lainnya. Syaithon menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaithon yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Alloh Azza wa jalla menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:

ﻤِﺒَﻓ َﻝﺎَﻗ ﻥَﺪُﻌْﻗَﻷ ﻲِﻧ َّ ﻖَﺘْﺴُﻤْﻟﺍ َﻚَﻃﺍَﺮِﺻ ْﻢُﻬَﻟ َّﻢُﺛ َْﻢﻳِ ﻪَّﻨَﻴِﺗﻵ ﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺃ ِﻦْﻴَﺑ ﻦِّﻣ ﻡُ ْ ْﻢِﻬِﻔْﻠَﺧ ْﻦِﻣَﻭ ﻪِﻧﺎَﻤْﻳَﺃ ْﻦَﻋَﻭ ْﻡِ ﻪِﻠِﺋﺂَﻤَﺷ ﻦَﻋَﻭ ُﺪِﺠَﺗ َﻻَﻭ ْﻡِ ُﻩَﺮَﺜْﻛَﺃ َﻦﻳِﺮِﻛﺎَﺷ ْﻡ
Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(mengh alang halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datang i mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 16-17)

Kita butuh teladan akhlaq dan taqwa Disaat ini kita tidak hanya butuh terhadap teladan ilmu
tetapi kita lebih butuh teladan ahklaq dan taqwa,
sehingga kita bisa melihat dengan nyata dan mencontoh
langsung akhlaq dan takwa orang tersebut terutama
para Ustadz dan Syaikh.

Yang perlu kita camkan juga, jika menuntut ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlaq dan adab orang tersebut baru kita mengambil ilmunya. Ibu Imam Malik Rahimahullohu, sangat faham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatik an keadaan putranya saat hendak pergi belajar.

Imam Malik
Rohimahullohu mengisahkan:
“Aku berkata kepada ibuku,‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah !’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan,‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan , ‘Pergilah kepada Robi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’. (Waratsatul Anbiya’, dikutip dari majalah Asy Syariah No. 45/IV/ 1429 H/2008, halaman 76 s.d. 78).

Kemudian pada komentar/pengakuan ketiga,

“Baru melihatnya saja, ana langsung teringat Akherat”

Hal inilah yang kita harapkan, banyak teladan langsung seperti ini. Para ulama pun demikian sebagaiman a Ibnul Qoyyim Rahimahullohu berkata,

“Kami (murid-mur id Ibnu Taimiyyah) , jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” [Al Waabilush Shayyib hal 48, cetakan ketiga, Darul Hadist, Maktabah Syamilah]

Sudah lama “ngaji” tetapi kok susah sekali memperbaiki Akhlak?

Memang memperbaiki Akhlaq adalah hal yang tidak mudah dan butuh “mujahadah”perjuangan yang kuat. Selevel para ulama saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki akhlaq. Berkata Abdulloh bin Mubarok Rohimahullohu :

ﺖﺒﻠﻃﻭ ﺔﻨﺳ ﻦﻴﺛﻼﺛ ﺏﺩﻷﺍ ﺖﺒﻠﻃ
ﺍﻮﻧﺎﻛ ﺔﻨﺳ ﻦﻳﺮﺸﻋ ﻢﻠﻌﻟﺍ
ﻢﻠﻌﻟﺍ ﻢﺛ ﺏﺩﻷﺍ ﻥﻮﺒﻠﻄﻳ
“Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama 20 tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”. [Ghayatun-N ihayah fi Thobaqotil Qurro I/ 446, cetakan pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah]

Dan kita tetap terus menuntut ilmu untuk memperbaiki akhlaq kita karena ilmu agama yang shohih tidak akan masuk dan menetap dalam seseorang yang mempunyai jiwa yang buruk.


Imam Al Ghozali Rohimahullohu berkata,
“Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Alloh Ta’ala, akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Alloh Ta’ala.”[Thabaqat Asy Syafi’iyah, dinukil dari tulisan ustadz Kholid syamhudi, Lc, majalah Assunah].


Jadi hanya ada kemungkinan ilmu agama tidak akan menetap pada kita ataupun ilmu agama itu akan
memperbaiki kita. Jika kita terus menerus menuntut ilmu agama maka Insya Alloh ilmu tersebut akan memperbaiki akhlaq kita dan pribadi kita.

Mari kita perbaiki akhlak untuk dakwah


“orang salafi itu ilmunya bagus, ilmiah dan masuk akal
tapi keras dan mau menang sendiri”
[pengakuan
seseorang kepada penyusun]

Karena akhlaq buruk, beberapa orang menilai dakwah Ahlus sunnah adalah dakwah yang keras, kaku, mau menang sendiri, sehingga beberapa orang lari dari dakwah dan menjauh. Sehingga dakwah yang gagal karena rusaknya ahklaq pelaku dakwah itu sendiri. Padahal Rosululloh Shollallohu‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭُﺮِّﺴَﻌُﺗ ﺎَﻟَﻭ ﺍﻭُﺮِّﺴَﻳ ﻭُﺮِّﺸَﺑَﻭ ﺍ ﻭُﺮِّﻔَﻨُﺗ ﺎَﻟَﻭ ﺍ ﺍ
“Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat manusia lari” [HR. Bukhori, Kitabul ‘Ilmi no.69]

Karena Akhlaq yang buruk pula Ahlus sunnah berpecah belah, saling tahzir, saling menjauhi yang setelah dilihat- lihat, sumber perpecahan adalah perasaan hasad dan dengki, baik antar ustadz ataupun antar muridnya.

Dan kita patut berkaca pada sejarah bagaimana Islam dan dakwah bisa berkembang karena akhlaq pendakwahnya yang mulia. Jangan lupa berdoa agar akhlaq kita menjadi baik Dari Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:

, ﻢُﻬَّﻠﻟَﺃ ِﻦَﺴْﺣَﺄِﻟ ْﻲِﻧِﺪْﻫﺍ َّ ﻕﺎَﻠْﺧَﻷﺍ ْﻱِﺪْﻬَﻳ ﺎَﻟ ُﻪَّﻧِﺈَﻓ ,ِ ِﻦَﺴْﺣَﺄِﻟ ْﻥَﺃﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻫ َﺕ ﺎَﻬَﺌِّﻴَﺳ ْﻲِّﻨَﻋ ْﻑِﺮْﺻﺍَﻭ ﻑِﺮْﺼَﻳﺎَﻟ ُ ﺎَﻬَﺌِّﻴَﺳ ْﻲِّﻨَﻋ
“Ya Alloh, tunjukkanlah aku pada akhlaq yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukka nnya selain Engkau. Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlaq yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.” (HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)
Dan doa dijauhkan dari akhlaq yang buruk:
َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ْﻦِﻣ َﻚِﺑ ُﺫﻮُﻋَﺃ ﻰِّﻧِﺇ ﺕﺍَﺮَﻜْﻨُﻣ ﻕَﻼْﺧَﻷﺍ ِ َﻢْﻋَﻷﺍَﻭ ِ ِﻝﺍ َﻮْﻫَﻷﺍَﻭ ِﺀﺍ
“Ya Alloh, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar”(HR. Tirmidzi no. 3591, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Dzolalul Jannah: 13)

Wa Shollallohu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi Robbil ‘alamin.

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid 27 Romadhon 1432.H, Bertepatan 27 Agustus 2011.
Semoga Alloh meluruskan niat kami dalam menulis dan memperbaiki akhlak kami

Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel: www.muslim.or.id

[1] ngaji: istilah yang ma’ruf, yaitu seseorang mendapat hidayah untuk beragama sesuai dengan Al- Qur’an dan As-sunnah dengan pemahaman salafus Sholih, istilah ini juga identik dengan penuntut ilmu agama.

di salin kembali: www.ari-alwaikewaki.blogspot.com

Share

Posted by : Gusari Iman ~ /Muslim. Blog Seputar Hukum-Hukum Islam

Anda sedang membaca artikel tentang: Sudah Lama Ngaji Tapi Akhlaq Tidak Baik Alhamdulillah anda akhirnya menemukan artikel Sudah Lama Ngaji Tapi Akhlaq Tidak Baik ini dengan url " http://ari-alwaikewaki.blogspot.com/2012/08/sudah-lama-ngaji-tapi-akhlaq-tidak-baik.html Anda boleh menyebar luaskan atau mengcopy pastenya jika artikel Sudah Lama Ngaji Tapi Akhlaq Tidak Baik ini sangat bermanfaat buat Anda dan teman-teman anda, namun jangan lupa untuk mencantumkan sumber atau link Sudah Lama Ngaji Tapi Akhlaq Tidak Baik sebagai sumbernya, (link atau sember asal di akhir artikel ini. Perlu di ketahui bahwa 'Semua artikel yang ada disitus ini kebanyakan ana ambil dari sumber yang lain sebagai bahan baca'an harian ana.' Jangan lupa untuk membaca artikel yang terkait di bawah ini! Syukron atas kunjungannya.

0 Komentar:

Pengikut

LANGGAN ARTIKEL

Masukan Email Sobat di sini untuk berlengganan artikel dari kami, setiap artikel yang di terbitkan dari "Muslim" akan langsung terupdate ke email sobat. :

Delivered by: Muslim


  © Copyright, Muslim by: Gusari Usman, Syukron Atas Kunjungannya!

Back to TOP