September 18, 2012

Apa Hukumnya Seorang Wanita Yang Keluar Dengan Maksud Menuntut Ilmu?

Pertanya'an:
Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Apakah hukum keluarnya wanita untuk mendapatkan ilmu dari sekolah-sekolah atau untuk mengajar? Demikian juga perginya mereka ke tempat-tempat menghafal Al-Qur’an?

Jawaban:
Pada dasarnya wanita itu saudara kaum lelaki dalam beban dan kewajiban syariat serta dalam perkara- perkara syariat yang dikehendaki dari mereka. Wanita itu seperti laki-laki dalam kewajiban-kewajiban agama kecuali pada hukum yang dikhususkan untuk wanita dan penuntut ilmu.

Wanitapun diarahkan untuk menuntut ilmu dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menuntut ilmu, akan tetapi dengan syarat-syarat yang sesuai dengan syari'at diantaranya dengan seizin walinya, dan tidak ada padanya perkara-perkara yang tidak terpuji, tidak melalaikan pekerjaan/tugas di rumah suaminya atau pada anak-anaknya dan lainnya.

Jika terpenuhi syarat-syarat tersebut dan tidak ada penghalangnya, maka upaya seorang wanita dalam menuntut ilmu mempunyai fadhilah yang besar.

Pada saat ini kita membutuhkan para wanita untuk pendidikan dan dakwah. Karena banyaknya wanita-wanita pendatang, dan karena kebutuhan wanita pada bidang ini, mudah-mudahan Alloh Jalla Jalaluhu memberi petunjuk kepada mereka. Oleh karena itu saya wasiatkan kepada para wanita agar menuntut ilmu, akan tetapi hendaknya menuntut ilmu yang batasannya nafilah (tambahan) bagi mereka, tidak didahulukan dari kewajiban yang harus mereka tunaikan.

Karena sebagian wanita, kadang-kadang menelantarkan suaminya, atau rumahnya, atau anak-anaknya dan lainnya. Maka akibatnya timbul perkara-perkara yang tidak terpuji.

Oleh sebab itu hendaklah seorang wanita menimbang-nimbang dalam masalah ini dan mendapatkan maslahat hingga tertolaklah kerusakan, dan bagi wanita akan mendapat pahala sesuai dengan niatnya, insya Alloh.

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiiroh Al-Islamiyyah, Edisi 02 Dzulqo’dah 1423/Januari 2003. Diterbitkan : Ma’had Ali Al-Irsyad Jl Sultan Iskandar Muda 45
Surabaya].

Apa Hukumnya Mengejek Wanita Muslim Yang Memakai Cadar Atau Jilbab?

Tanya:
Apa hukumnya menge-jek wanita muslimah yang mengenakan hijab syar’I dengan menyebutnya sebagai ‘ifritah (jin Ifrit wanita/ hantu, red) atau kemah yang berjalan, dan kalimat-kalimat lain yang sifatnya mengejek?

Jawab:
Barang siapa yang menghina seorang muslim atau muslimah dikarenakan ajaran syariat yang dia pegang maka dia adalah kafir, baik itu dalam masalah hijab syar’i atau yang selainnya. Hal ini berdasarkan pada hadits Ibnu Umar Rodhyiallohu 'anhum yang mengisahkan salah saorang laki-laki yang berkata dalam perang Tabuk:

”Aku tidak pernah melihat orang yang semisal ahli baca kita (dia maksudkan Nabi Shollallohu alaihi wa Salam dan para shohabatnya) yang mereka itu lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih penakut ketika berhadapan dengan musuh.” Maka seorang laki-laki lain berkata,”Kamu telah berdusta, bahkan kamu adalah seorang munafik, aku akan memberitahukan ini kepada Rosululloh Shallallohu 'alaihi wa Salam ! Ketika orang tersebut sampai kepada Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Salam ternyata telah turun ayat, Abdulloh Ibnu Umar mengatakan:

“Aku melihat laki-laki tersebut berpegangan pada sabuk pelana unta Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Salam sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu seraya mengatakan,”Wahai Rosululloh sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.”

Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Salam bersabda (membacakan ayat),

“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. 9:65-66)

Maka Alloh telah menjadikan, bahwa berolok-olok terhadap orang mukmin(karena syariat yang dia pegang) merupakan bentuk olok-olok terhadap Alloh, Rosul dan ayat-ayat-Nya. (Al-Lajnah ad-Daimah)

September 17, 2012

Bagaimana Caranya Agar Keluar Dari Lembah Perzinahan?

Pertanyaann :
Sungguh, saya sangat takut akan azab Allah tentang zina. Bolehkah saya hanya bertaubat kepada Alloh tanpa pengakuan kepada sesama manusia bahwa saya telah berzina?. Bukan karena takut akan rajam jika mengaku. Tetapi semata-mata untuk mempertahankan keutuhan keluarga. Sebab, jika ada pengakuan, keluarga akan pecah walaupun saya telah meminta maaf dan bertaubat kepada Alloh. Sementara saya tidak ingin ada perceraian.

Bagaimana cara meminta maaf terhadap istri karena telah berbuat dzholim kepadanya? Bolehkah saya berbohong kepada wanita yang telah berzina dengan saya dengan mengatakan saya jarang menghubunginya lewat telpon dengan alasan sudah tidak punya HP lagi. Itu saya lakukan semata-mata untuk menghindar darinya karena takut terulang lagi.

Saya sudah ajak dia untuk bertaubat. Katanya mau bertaubat. Namun karena mungkin ‘hubungan kami’ begitu indah syaithan selalu menggoda kami berdua. Itulah sebabnya saya putuskan untuk jarang menghubunginya lagi. Kalau saya hubungi dia, hanya untuk menjalin tali silaturahmi saja. Terima kasih atas taushiyahnya.

Alhamdulillah sudah 6 bulan ini saya berlangganan As Sunnah dan mengumpulkan buku-buku yang ditulis oleh al Albani ulama salafi lainnya. Saya mencoba memahami Islam melalui manhaj Salaf. Semoga Alloh meridhoi saya. Karena itu, mohon dari rekan-rekan untuk mendoakan saya agar selalu istiqomah.

Fulan Jkt.

Jawaban:
Kami merasa iba terhadap Anda yang telah terjerumus ke dalam lembah perzinaan. Semoga Alloh segera menghilangkan rasa cinta yang busuk, penuh racun tersebut. Bertaubatlah segera dengan sebenarnya dari perbuatan keji tersebut!. Itulah katup pengaman yang paling ampuh, akan membersihkan Anda dari noda dosa zina dan lainnya. Alloh Maha Mengampuni segala kesalahan. Pengakuan kesalahan yang Anda lakukan kepada sesama (istri atau keluarga) dalam masalah seperti ini tidak mesti Anda lakukan. Seorang pelaku maksiat dituntut untuk tidak membeberkannya kepada orang lain.

Para suami, hendaknya sudah dapat mengendalikan hawa nafsunya (seksual).
Sebab, Alloh Azza wa Jalla telah menghalalkan cara baginya untuk memenuhi hajat biologisnya.

Salah pergaulan berperan dalam merusak diri kita. Apalagi bila kawan pergaulan dari kalangan wanita, yang sudah disebut oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagai fitnah yang paling berbahaya bagi kaum Adam. Kita pun tidak boleh terlalu percaya diri akan selamat dari fitnah ini.

Al Qurthubi Rohimahulloh pernah berkata:
“Sepatutnya seseorang tidak boleh percaya diri saat berkholwat bersama dengan wanita yang tidak halal baginya. Menghindarinya lebih baik dan lebih menjaga diri”.[1]

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ﻰَﻠَﻋ َّﺮَﺿَﺃ ًﺔَﻨْﺘِﻓ ﻱِﺪْﻌَﺑ ُﺖْﻛَﺮَﺗ ﺎَﻣ
ِﺀﺎَﺴِّﻨﻟﺍ ْﻦِﻣ ِﻝﺎَﺟِّﺮﻟﺍ
“Tidakkah aku tinggalkan sebuah fitnah sesudahku, ia lebih membahayakan kaum lelaki, melebihi bahaya fitnah wanita”. [HR. al Bukhori Muslim]

Zina termasuk dosa besar. Bahayanya pun tidak bisa dianggap enteng. Akan mengakibatkan perusakan nasab, penodaan reputasi keluarga dan masyarakat serta kemunculan hukuman yang merata Zina seperti diungkapkan oleh Ibnul Qoyyim
Rohimahulloh dalam ad Da` Wad Dawa` berpangkal dari rasa al isyqu (kecanduan asmara, kasmaran) yang menggelayuti jiwa pelaku kepada pasangan kencannya. Hati yang demikian biasanya sedang mengalami kekosongan jiwa dan hati dari mahabbatullah (cinta kepada Alloh). Jika jiwa kosong dan tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat, mesti akan larut dala hal-hal yang membahayakan.

Bila Anda masih sayang dengan keluarga, segera saja jauhi wanita tersebut. Tidak perlu Anda menjalin hubungan dengannya dengan cara apapun. Baik dengan dalih silaturahmi atau alasan lainnya. Sebab, masih mungkin memicu syahwat menuju hal yang tidak baik.

Anda pun telah menyadari bahaya wanita tersebut ketika ‘indahnya hubungan’ dengannya menggelitik kembali. Apalagi ia belum berkeinginan memperbaiki diri. Bahkan bila perlu Anda mengganti nomor HP. Buktikan cinta Anda kepada istri Anda, wanita yang halal. Hal ini, yaitu menjauhi wanita yang sempat menjadi sumber Anda bermaksiat akan membuktikan cinta kepada ketaatan kepada Alloh, serta cinta kepada istri.

Menurut nasehat Ibnu Taimiyah rahimahullah, orang semacam Anda (mengalami kecanduan cinta terlarang), mesti menempuh cara-cara berikut ini:

Pertama : Menikah. (alhamdulillah Anda sudah menikah).

Nabi bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian melihat pesona seorang wanita, hendaknya ia mendatangi istrinya. Sesungguhnya ia juga memiliki apa yang dimilikinya”Pernikahan akan mengurangi gejolak syahwat dan melemahkan kasmaran kepada wanita lain.

Kedua : Menekuni sholat lima waktu, berdoa dan merendahkan diri (tadharru’) di waktu-waktu sahar (sebelum fajar menyingsing). Menegakkan sholat dengan hati penuh penghayatan dan khusyu’, serta memperbanyak doa yang berbunyi: ْﻑِﺮْﺻﺍ ِﺏﻮُﻠُﻘْﻟﺍ َﻑِّﺮَﺼُﻣ ﺎَﻳ
َﺐِّﻠَﻘُﻣ ﺎَﻳ َﻚِﺘَﻋﺎَﻃ ﻰَﻟِﺇ ﺎَﻨَﺑﻮُﻠُﻗ
َﻚِﻨﻳِﺩ ﻰَﻠَﻋ ﻲِﺒْﻠَﻗ ْﺖِّﺒَﺛ ِﺏﻮُﻠُﻘْﻟﺍ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu. Wahai Dzat yang memaling-malingkan hatiku, palingkanlah hatiku kepada ketaatan kepadaMu dan RosulMu”.

Kapan saja ia menekuni doa dan ketundukan kepada Alloh, niscaya Alloh akan menyelamatkan hatinya dari masalah itu.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Demikianlah agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih”. [Yusuf :24]

Ketiga: Menjauhi tempat orang (wanita penggodanya), dan menjaga jarak dengannya untuk tidak berkumpul dengannya. Sehingga tidak tahu informasi tentang dirinya. Tidak menjumpainya lewat pandangan langsung ataupun sesuatu yang bisa mengingatkan tentangnya. Keterbatasan hubungan akan mengakibatkan kepudaran ikatan. Dan kapan saja ingatan melemah, maka akan semakin lemah pula pengaruhnya pada hati. Hendaknya ia menempuh perkara-perkara ini dan memonitor perkembangan kondisi-kondisinya. Wallohu a’lam.

Setelah penyesalan, bulatkan tekad untuk tidak pernah mengotori diri lagi.
Tempa diri Anda agar bersabar saat berhadapan dengan maksiat.

Ibnul Qoyyim Rohimahulloh memberikan nasehat:
“Bersabar hingga tidak tergiur oleh maksiat dapat ditempa melalui banyak hal:

1. Pengetahuan seorang hamba, bahwa maksiat sangat buruk, rendah dan bejat

2. Tanam keyakinan bahwa Allah telah mengharomkan dan melarangnya supaya mengekang gerak perbuatan-perbuatan rendah dan hina.
Seperti halnya seorang ayah yang penyayang memelihara anaknya dari hal-hal yang membahayakannya. Factor ini akan memacu orang yang cerdas untuk meninggalkannya, kendatipun tidak ada ancaman siksa padanya.

3. Rasa malu kepada Allah. Siapa saja yang mengetahui pendangan Alloh mengarah kepadanya dan ia selalu dalam pengawasan dan pendengaran-Nya, ia akan merasa malu kepada Robbnya untuk nekad menerjang hal-hal yang dimurkai-Nya

4. Mempertimbangkan nikmat-nikmat Alloh dan kebaikan-Nya padamu. Sesungguhnya dosa-dosa akan menyirnakannya, sudah pasti”. [3]

Alangkah baiknya, bila kita mendengarkan nasehat dari Khalifah ‘Umar bin al Khoththab yang dikutip oleh al Khoththabi dalam kitab al ‘Uzlah hlm. 58, dari Wadi’ah, ia berkata: Aku mendengar ‘Umar bin al Khoththab sedang menasehati seseorang:

“Janganlah engkau berbicara kecuali yang berguna. Hindari musuhmu. Waspadailah seorang teman kecuali yang amanah. Dan tiada kawan yang dapat dipercaya kecuali yang takut dan taat kepada Alloh Azza Wa Jalla.
Janganlah engkau berjalan bersama orang fajir (jahat hingga ia akan mengajarimu sebagian dari kejahatannya. Janganlah engkau menaatinya saat engkau sendirian, jangan pula meminta kepadanya pendapat, kecuali kepada orang-orang yang takut kepada Alloh Subhanah”.

Alhamdulillah, dalam pengakuan di atas, Anda telah benar-benar bertaubat, menyesali perbuatan.
Semoga Alloh menerima taubat Anda. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ﺎَﻟ ْﻦَﻤَﻛ ِﺐْﻧَّﺬﻟﺍ ْﻦِﻣ ُﺐِﺋﺎَّﺘﻟﺍ
ُﻪَﻟ َﺐْﻧَﺫ
“.Orang yang bertaubat, seperti orang yang tidak ada dosanya” [4]

Semoga Alloh Azza Wa Jalla memberikan hidayah dan istiqomah bagi kita sekalian agar senantiasa berada di atas jalanNya yang lurus. Amien. Wallohul Hadi Ila Shirothil Mustaqim.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 98/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnotes

[1]. Al Jami’ Li Ahkamil Qur`an (14/202) saat menafsiri ayat (yang artinya) :
“Apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir”. [Al Ahzab : 53]
[2]. Majmu al Fatawa : 32/5-6
[3]. Thoriq al Hijratain Wa Babu as Sa’adatain (1/270).
[4]. Hadits hasan dengan syawahid

September 07, 2012

Dosa Zina Dan Hukumannya Di Akhirat

Zina adalah dosa yang sangat besar dan sangat keji serta seburuk-buruk jalan yang ditempuh oleh seseorang berdasarkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

“Yang Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)” [Al-Isro : 32]

Para ulama menjelaskan bahwa firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
“Janganlah kamu mendekati zina”, maknanya lebih dalam dari perkataan : “Janganlah kamu berzina” yang artinya : Dan janganlah kamu mendekati sedikit pun juga dari pada zina [1]. Yakni : Janganlah kamu mendekati yang berhubungan dengan zina dan membawa kepada zina apalagi sampai berzina. [2]

Faahisah adalah = maksiat yang sangat buruk dan jelek
Wa saa’a sabiila = karena akan membawa orang yang melakukannya ke dalam neraka.

Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa zina termasuk Al-Kabaa’ir (dosa-dosa besar) berdasarkan ayat di atas dan sabda Nabi yang mulia Shollallohu‘alaihi wa sallam.

“Yang mafhumnya : Apabila seorang hamba berzina keluarlah Iman [3] darinya. Lalu iman itu berada di atas kepalanya seperti naungan, maka apabila dia telah bertaubat, kembali lagi iman itu kepadanya” [Hadits shohih riwayat Abu Dawud no. 4690 dari jalan Abu Hurairah]

Berkata Ibnu Abbas. : “Dicabut cahaya (nur) keimanan di dalam zina” [Riwayat Bukhari di awal kitab Hudud, Fathul Bari 12:58-59] Dan sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam.

“Yang mafhumnya : Dari Abi Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan berzina seorang yang berzina ketika dia berzina padahal dia seorang mukmin. Dan tidak akan meminum khomr ketika dia meminumnya padahal dia seorang mukmin. Dan tidak akan mencuri ketika dia mencuri padahal dia seorang mukmin. Dan tidak akan merampas barang yang manusia (orang banyak) melihat kepadanya dengan mata-mata mereka ketika dia merampas barang tersebut pada dia seorang mukmin” [Hadits shohih riwayat Bukhari no. 2475,5578, 6772, 6810 dan Muslim 1/54-55]

Maksud dari hadits yang mulia ini ialah :

Pertama : Bahwa sifat seorang mukmin tidak berzina dan seterusnya.
Kedua : Apabila seorang mukmin itu berzina dan seterusnya maka hilanglah kesempurnaan iman dari dirinya”[4]

Di antara sifat “ibaadur Rahman” [5] ialah : ‘tidak berzina’. Maka apabila seorang itu melakukan zina, niscaya hilanglah sifat-sifat mulia dari dirinya bersama hilangnya kesempurnaan iman dan nur keimannya. [6]

Setelah kita mengetahui berdasarkan nur Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia Shollallohu ‘alaihi wa sallam bahwa zina termasuk ke dalam Al-Kabaair (dosa-dosa besar) maka akan lebih besar lagi dosanya apabila kita melihat siapa yang melakukannya dan kepada siapa? Kalau zina itu dilakukan oleh orang yang telah tua, maka dosanya akan lebih besar lagi berdasarkan sabda Nabi yang mulia Shollallohu‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Ada tiga golongan (manusia) yang Alloh tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka siksa yang sangat pedih, yaitu ; Orang tua yang berzina, raja yang pendusta (pembohong) dan orang miskin yang sombong” [Hadits shohih riwayat Muslim 1/72 dari jalan Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam seperti diatas]

Demikian juga apabila dilakukan oleh orang yang telah nikah atau pernah merasakan nikah yang shohih baik sekarang ini sebagai suami atau istri atau duda atau janda, sama saja, dosanya sangat besar dan hukumannya sangat berat yang setimpal dengan perbuatan mereka, yaitu didera sebanyak seratus kali kemudian di rajam sampai mati atau cukup di rajam saja.

Adapun bagi laki-laki yang masih bujang atau dan anak gadis hukumnya didera seratus kali kemudian diasingkan (dibuang) selama satu tahun.

Dengan melihat kepada perbedaan hukuman dunia maka para ulama memutuskan berbeda juga besarnya dosa zina itu dari dosa besar kepada yang lebih besar dan sebesar-besar dosa besar. Mereka melihat siapa yang melakukannya dan kepada siapa dilakukannya. Kemudian, kalau kita melihat kepada siapa dilakukannya, maka apabila seorang itu berzina dengan isteri tetangganya, masuklah dia kedalam sebesar-besar dosa besar (baca kembali haditsnya di pasal kedua dari
jalan Ibnu Mas’ud).

Dan lebih membinasakan lagi apabila zina itu dilakukan kepada mahromnya seperti kepada ibu kandung, ibu tiri, anak, saudara kandung, keponakan, bibinya dan lain-lain yang ada hubungan mahrom, maka hukumannya adalah bunuh. [7] Setelah kita mengetahui serba sedikit tentang zina [8], dan dosanya, hukumannya di dunia di dalam syari’at
Alloh dan adzabnya di akhirat yang akan membawa para penzina terpanggang di dalam neraka, sekarang tibalah bagi kami untuk mejelaskan pokok permasalahan di dalam fasal ini yaitu hamil di luar nikah dan masalah nasob anak. Dalam fasal ini ada beberapa kejadian yang masing-masing berbeda hukumnya.

[Disalin dari kitab Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam Jakarta, Cetakan I – Th 1423H/2002M]
__________
Foote Note

[1]. Tafsir Al-Qurthubiy, Juz 10 hal. 253
[2].Tafsir Ruhul Ma’aaniy Juz 15 hal. 67-68 Al-Imam Al-Aluwsiy Al-Baghdadi. Tafsir Bahrul Muhith Juz 6 hal. 33.
[3]. Yang dimaksud“kesempurnaan iman dan cahayanya” baca syarah hadits ini di Faidlul Qadir Syarah Jami’ush Shogir 1/367 no. 660
[4]. Lihat syarah hadits ini di Fathul Bari no. 6772 Syarah Muslim Juz.2 hal.41-45 Imam An-Nawawi. Kitabul Iman oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal.239, 240
[5]. Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Furqan ayat 68
[6]. Lihatlah tentang permasalahan zina, kerusakannya, hukumannya, dosanya, siksanya di kitab Jawaaabul Kaafiy, hal. 223 -239 dan 240 – 249 oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim
[7]. Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nisaa ayat 22
[8]. Keluasan masalah zina dapat dibaca dan diteliti di kitab-kitab fiqih dan syarah hadits.

Pengikut

LANGGAN ARTIKEL

Masukan Email Sobat di sini untuk berlengganan artikel dari kami, setiap artikel yang di terbitkan dari "Muslim" akan langsung terupdate ke email sobat. :

Delivered by: Muslim


  © Copyright, Muslim by: Gusari Usman, Syukron Atas Kunjungannya!

Back to TOP